Catatan Kuliahku..Belajar & Terus Belajar!

Maret 1, 2010

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

Filed under: Uncategorized — Dinul Islam Jamilah @ 2:02 pm

HASIL RINGKASAN PERTEMUAN KE-2

BAB II PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

Mata Kuliah Pengantar Metodologi Penelitian

Disusun oleh Dinul Islam Jamilah semester VI-A

NIM 2007.1096

A. Pilar-Pilar Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan terdiri dari dua pilar, yaitu logika atau rasionalitas dan pengamatan atau empiris, yang prosesnya itu dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis, terkendali, empiris, dan kritis. Ciri dari suatu ilmu adalah Science is sometimes characterized as logico-emprical. This ugly term carries an important massage: two pillars of science are (1) logic or rationality and (2) the observation of empirical facts (Babbie, 1992). Menurut Babbie, ilmu pengetahuan berdiri di atas dua pilar. Pilar pertama adalah logika atau rasionalitas, dan pilar kedua adalah pengamatan empiris. Oleh karenanya ciri ilmu pengetahuan adalah logic-empirical.

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika. Logika dapat didefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesimpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.

Logika merupakan salah satu dasar atau landasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui kedua metode penalaran yang dikembangkan dalam metode ilmiah tersebut ilmu pengetahuan berkembang hingga sekarang ini. Fakta-fakta ilmiah yang telah terkumpul dijadikan landasan dan acuan guna mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan fakta-fakta ilmiah sebelumnya. Hal ini begitu penting dan menjadi perhatian bahwa dalam menyusun sebuah karya ilmiah fakta ilmiah yang dijadikan landasan merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan. Dalam membuat hipotesis mengenai sesuatu yang kita kaji landasan fakta ilmiah memberikan arah yang memudahkan kita dalam mencapainya. Sedangkan kebenaran hipotesis yang kita buat dibuktikan menurut fakta empiris yang kita peroleh. Ilmu pengetahuan sulit berkembang tanpa landasan fakta ilmiah, sebagaimana yang terjadi di abad pertengahan yang di sebut sebagai The Dark Age karena berbagai hal terutama masalah rasial dan sikap tertutup terhadap fakta ilmiah.

Logika dan empiris merupakan dua pilar ilmu pengetahuan yang saling berhubungan. Jika terdapat suatu teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Dengan kata lain, cara berpikir kita tidak verbal, tetapi praktis-deduktif. Sebaliknya, apabila kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa faktual dalam dunia empiris, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teori yang pernah kita pelajari. Cara berpikir kita adalah teoritis-induktif. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik antara teori dan peristiwa-peristiwa empiris. Teori dengan cara berpikir deduktif mengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyataan empiris dengan cara berpikir induktif mengarahkan kita pada teori. Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, antara berpikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus, tetapi harus selalu dikembangkan.

Ilmu pengetahuan modern saat ini dibangun atas dasar dua pilar, pertama berdasarkan fakta ilmiah, dan kedua berdasarkan dugaan (hypothesa). Dapat dikatakan kebanyakan ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan fakta ilmiah berkesesuaian dengan Al-Quran, meskipun tidak seluruhnya. Contohnya fakta ilmiah menyebutkan bahwa manusia mendirikan atap harus menggunakan tiang. Al-Quran menerangkan bahwa Allah SWT. membentangkan langit tanpa tiang. Fakta ilmiah menyebutkan sebuah benda agar dapat bergerak pada lintasan yang sama harus ada jalur khusus (seperti kereta api misalnya) atau sebuah benda agar dapat bergerak dalam lingkaran sempurna secara berulang-ulang memerlukan poros dan jari-jari. Sedangkan Allah mampu menggerakkan matahari, bumi dan bulan yang berada dalam kondisi bebas mengikuti garis edarnya. Evolusi bumi terhadap matahari setelah melakukan perjalanan selama setahun akan kembali pada posisi yang sama tanpa meleset 1 milimeterpun. Maka kita tahu jadwal shalat pada tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya akan kembali pada waktu yang sama dan tidak akan bergeser 1 detikpun sampai hari kiamat nanti.

Sedangkan ilmu pengetahuan yang dibangun atas dasar dugaan hampir seluruhnya bertentangan dengan Al-Quran. Contohnya tentang 2 hal yang telah disebutkan tadi, yaitu tentang asal usul manusia dan penciptaan alam semesta. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa asal usul manusia, sebagaimana yang diterangkan dalam teori evolusi Darwin, adalah berasal dari sejenis primata. Sampai saat ini teori inilah yang diterima menjadi satu-satunya penjelasan tentang asal-usul manusia, meskipun Darwin sendiri mengatakan masih ada satu mata rantai yang putus (missing link) tentang teorinya sehingga teori tersebut belum bisa dianggap shahih. Sedangkan Al-Quran menyatakan manusia pertama diciptakan Allah swt dari tanah. Dijelaskan dalam Al-Quran, yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak ” (Q.S Ar-Rum: 20)

B. Tahap-Tahap Dalam Proses Penelitian

Penelitian sebagai proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analitis, dan terkendali. Terdapat 10 tahap yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris, yaitu:

1. Konseptualiasi Masalah

Koseptualisasi masalah merupakan proses penelitian ilmiah yang diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian yang di dalamnya terdapat pembahasan tentang masalah (substansi) yang dipertanyakan dan pertanyaan dasar serta cara menjawab pertanyaan itu (metodologi) yang dilakukan secara dengan teliti karena akan mempengaruhi kepada tahap-tahap berkutnya. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian, karena semua jalannya penelitian akan dituntun oleh perumusan masalah. Tanpa perumusan masalah yang jelas, maka peneliti akan kehilangan arah dalam melakukan penelitian.

2. Tujuan dan Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan yang dirumuskan sebagai jawaban (sementara) terhadap pertanyaan. Tujuan dan hipotesis inilah yang mengendalikan semua kegiatan penelitian. Perumusan hipotesa biasanya dibagai menjadi tiga tahapan: pertama, tentukan hipotesa penelitian yang didasari oleh asumsi penulis terhadap hubungan variabel yang sedang diteliti. Kedua, tentukan hipotesa operasional yang terdiri dari Hipotesa 0 (H0) dan Hipotesa 1 (H1). H0 bersifat netral dan H1 bersifat tidak netral. Perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian memerlukan hipotesa, seperti misalnya penelitian deskriptif.

3. Kerangka Dasar Penelitian

Kerangka dasar disebut juga sebagai kerangka hipotesis karena di dalamnya mencakup konsep-konsep hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Dengan dirumuskannya secara operasional konsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, maka diperoleh kejelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hipotesis penelitian. Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan kerangka berfikir ini di susun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor- faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.

4. Penarikan Sampel

Penarikan sampel merupakan tahap proses penelitian di mana data yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis itu dapat dikumpulkan dan membuat strategi yang digunakan untuk mengumpulkannya. Hasil dari proses penarikan sampel ini adalah suatu daftar responden sebagai sampel dari populasi penelitian.

Penentuan Responden yang diteliti Penelitian pada dasarnya dapat dilakukan dengan pencacahan lengkap, sampel survay atau studi kasus. Masing-masing mempunyai batas-batas penarikan kesimpulan tersendiri. Pada sampel survay hasil pengukuran sampel akan digeneralisasikan bagi populasinya sedang studi kasus kesimpulan hanya berlaku bagi kasusnya dan tidak dibenarkan menarik kesimpulan diluar kasus (lingkup yang lebih luas). Sedangkan pada penelitian sampel survei hendaknya dikemukakan/ ditetapkan populasi penelitian dan deskripsi karakteristiknya, besar sampel yang akan diambil dan bagaimana sampel tersebut ditarik (teknik pengambilan sampel). Pengutaraan teknik pengambilan sampel (stratifilasi, randomisasi, kerangka sampel, unit sampel, unit analisis) secara jelas akan memudahkan penilaian kerepresentatifan hasil penelitian.

5. Kontruksi Instrumen

Kontruksi instrumen merupakan tahap proses penelitian yang berhubungan dengan metode pengumpulan data dan alat-alat (instrument) yang digunakan untuk mengumpulkannya. Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti wawancara, daftar kuesioner, pedoman pengamatan, dan sebagainya.

6. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu perlu ditentukan metode pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel, supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.

Insrumen pengumpulan data tersebut kemudian hendaknya dioperasikan dengan teknik-teknik tertentu misalnya wawancara dengan pedoman daftar pertanyaan atau schedule wawancara disebut “wawancara terstruktur”, observasi dan sebagainya. Selain itu sebutkan dan jelaskan sumber datanya yakni dari mana data tersebut dapat diperoleh (data primer dan atau data sekunder). Siapa yang menjadi respondennya hendaklah dijelaskan. Identifikasi responden perlu dibuat terlebih dahulu, demikian juga identifikasi populasi dan sampelnya. Jika menggunakan data sekunder harus disebutkan data sekunder apa dan dari mana diperoleh.

7. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode), dan menyusunnya dalam master sheet (table induk). Data yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan dan diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan penelitian yang telah ditetapkan. Pengolahan data diarahkan untuk memberi argumentasi atau penjelasan yang diajukan dalam penelitian, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh. Apabila ada hipotesis, pengolahan data diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Dari data yang sudah terolah kadangkala dapat dibentuk hipotesis baru. Apabila ini terjadi maka siklus penelitian dapat dimulai lagi untuk membuktikan hipotesis baru.

8. Analisis Pendahuluan

Analisis data penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Analisis pendahuluan bersifat deskriptif dan terbatas pada data sampel. Maksud dari analisis ini adalah untuk mendeskripsikan setiap variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.

9. Analisis Lanjut

Analisis selanjutnya setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alat analisis yang dipakai ini disesuaikan dengan hipotesis operasionalkan yang telah dirumuskan sebelumnya. Apabila hipotesis yang diuji hanya mencakup satu variable, maka dipergunakan Uni Variate Analysis. Apabila hipotesis mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analysis. Dan apabila mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Multivariate Analysis.

10. Interpretasi

Interpretasi merupakan tahap di mana hasil analisis diinterpretasikan melalui proses pembahasan yang hasil penelitiannya itu dilaporkan dalam bentuk tertulis. Secara substansi proses penelitian tersebut terdiri dari aktivitas yang berurutan (Burhan Bungin; 2005), yaitu sebagai berikut :

1. Mengeksploitasi, perumusan, dan penentuan masalah yang akan diteliti. Penelitian kuantitatif dimulai dengan kegiatan menjajaki permasalahan yang akan menjadi pusat perhatian peneliti dan kemudian peneliti mendefinisikan serta menformulasikan masalah penelitian tersebut dengan jelas sehingga mudah dimengerti.

2. Mendesain model penelitian dan paramater penelitian. Setelah masalah penelitian diformulasikan maka peneliti mendesain rancangan penelitian, baik desain model maupun penentuan parameter penelitian, yang akan menuntun pelaksanaan penelitian mulai awal sampai akhir penelitian.

3. Mendesain instrumen pengumpulan data penelitian. Agar dapat melakukan pengumpulan data penelitian yag sesuai dengan tujuan penelitian, maka desain instrumen pengumpulan data menjadi alat perekam data yang sangat penting di lapangan.

4. Mengumpulkan data penelitian dari lapangan.

5. Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian. Data yang dikumpulkan dari lapangan diolah dan dianalisis untuk menemukan kesimpulan-kesimpulan, yang diantaranya kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis penelitian.

6. Mendesain laporan hasil penelitian. Pada tahap akhir, agar hasil penelitian dapat dibaca, dimengerti dan diketahui oleh masyarakat luas, maka hasil penelitian tersebut disusun dalam bentuk laporan hasil penelitian.

Menurut Hasan Suryono (1997) proses penelitian kuantitatif dengan ciri-ciri pokok sebagai berikut :

1. Cara samplingnya berlandaskan pada asas random.

2. Instrumen sudah dipersiapkan sebelumnya dan di lapangan tinggal pakai.

3. Jenis data yang diperoleh dengan instrumen-instrumen sebagian besar berupa angka atau yang diangkakan.

4. Teknik pengumpulan datanya memungkinkan diperoleh data dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat.

5. Teknik analisis yang dominan adalah teknik statistik.

6. Sifat dasar analisis penelitian deduktif dan sifat penyimpulan mengarah ke generalisasi.

Menurut Husein Umar (1999) langkah penelitian ilmiah dengan menggunakan proses penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut :

1. Mendefinisikan dan merumuskan masalah, yaitu masalah yang dihadapi harus dirumuskan dengan jelas, misalnya dengan 5 W dan 1 H (what, why, where, who, when dan how)

2. Studi Pustaka, mencari acuan teori yang relevan dengan permasalahan dan juga diperlukan jurnal atau penelitian yang relevan

3. Memformulasikanh hipotesis yang diajukan

4. Menentukan model, sebagai penyerderhanaan untuk dapat membayangkan kemungkinan setelah terdapat asumsi-asumsi

5. Mengumpulkan data, dengan menggunakan metode pengumpulan data yang sesuai dan terkait dengan metode pengambilan sampel yang digunakan

6. Mengolah dan menyajikan data, dengan menggunakan metode analisis data yang sesuai dengan tujuan dan sasaran penelitian

7. Menganalisa dan menginterprestasikan hasil pengolahan data (menguji hipotesis yang diajukan)

8. Membuat Generalisasi (kesimpulan) dan Rekomendasi (saran)

9. Membuat Laporan Akhir hasil penelitian

C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi

Dalam tahap-tahap proses penelitian terdapat tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen, yaitu komponen informasi sebagai hasil temuan dan komponen metodologi sebagai cara menemukannya. Terdapat 5 komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian, yaitu:

1. Teori

2. Hipotesis

3. Pengamatan

4. Generalisasi empiris

5. Penerimaan atau penolakan hipotesis.

Informasi-informasi tersebut ditemukan melalui 6 komponen metodologi, yaitu:

1. Deduksi logis

2. Interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling

3. Penyederhanaan (dengan statistic, estimasi parameter)

4. Pembentukan teori dan proposisi

5. Pengujian hipotesis

6. Inferensial logis.

Jika kita mulai dengan mempermasalahkan suatu teori, maka dari teori tersebut kita menurunkan hipotesis. Cara menurunkan hipotesis dari teori itu dilakukan dengan deduksi logis. Selanjutnya, untuk membuktikan hipotesis dibutuhkan data sebagai hasil pengamatan. Informasi ini diperoleh dengan cara melakukan interpretasi terhadap hipotesis, menyusun instrumen, menarik sampel, dan menetapkan pengukuran variabel. Berdasarkan data hasil pengamatan ini ingin diketahui apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak, dan di pihak lain ingin diperoleh informasi berupa generalisasi empiris. Penerimaan atau penolakan hipotesis berdasarkan data pengamatan itu dilakukan dengan analisis uji hipotesis, dan dengan teknik estimasi parameter. Dari hasil uji hipotesis kemudian disimpulkan denga cara inferensial atau induksi logis. Di pihak lain, dari generalisasi empiris dibentuk konsep atau proposisi dengan cara pembentukan konsep, proposisi, dan teori.

Salah seorang pakar di bidang metode penelitian kuantitatif, Walter L. Wallace kemudian merumuskan siklus penelitian kuantitatif seperti berikut:

teori

Merumuskan konsep dan proposisi

Logika penarikan

Kesimpulan

Logika deduksi

Generalisasi

empiris

Menerima/ menolak

hipotesis

hipotesis

Uji hipotesis

Instrumentasi, penskalaan, sampling

Pengamatan

Pengukuran,

ringkasan

Sampel dan

parameter

Berdasarkan model penelitian di atas dapat diketahui bahwa siklus penelitian kuantitatif haruslah dimulai dengan teori dulu. Melalui logika deduktif, maka teori tersebut dapat dirumuskan menjadi hipotesis. Melalui proses intrumentasi, sampling dan penskalaan maka dapatlah dilakukan penelitian lapangan. Dari penelitian lapangan, maka dilakukan pengukuran, peringkasan sampel dan parameter maka dapatlah dirumuskan generalisasi empirisnya. Setelah itu dilakukan perumusan konsep dan melalui proses induksi maka akan menjadi teori lagi. Di dalam penelitian kuantitatif, maka dari teori akan menjadi teori lagi. Sehingga dalam hal yang menyangkut teori yang sangat general (grand theory), maka hampir-hampir tidak dapat dilakukan falsifikasi. Sejauh-jauhnya hanyalah verifikasi terhadap teori yang sudah ada. Di dalam dekade ini, maka hampir-hampir tidak ditemui lahirnya teori baru sebab sejauh penelitian yang dilakukan hanyalah untuk menguatkan teori yang sudah ada, atau memverifikasi teori yang sudah ada.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: